Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sebelum kita membahas kisah khalifah Abu Bakar dan bagaimana beliau masuk Islam, maka alangkah baik kita mengetahui terlebih dahulu nama beliau yang asli karena mungkin sebagian diantara umat Islam belum banyak yang mengetahui nama asli beliau. Nama beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Luayyi al- Qurasyi al-Timi.

Lalu bagaimana beliau sampai dipanggil dengan sebutan Abu Bakar? Tidak ada riwayat yang sahih dan jelas yang menjadi dasar untuk menjawab pertanyaan di atas, tapi ada beberapa kemungkinan argumentasi yang bisa dipergunakan untuk menjelaskan hal tersebut, di antaranya:

  1. Ada keterkaitan dengan kiasan yang dipakai yaitu Abu Bakar itu seperti unta muda dikarenakan begitu banyaknya perdagangan yang dimilikinya dan seringnya beliau bepergian untuk urusan bisnis.
  2. Dari berbagai sumber didapati bahwa beliau disebut Abu Bakar karena beliau adalah orang yang paling awal masuk Islam.
  3. Ada argumentasi lain yang mengatakan bahwa karena beliau adalah anak pertama dari kedua orang tuanya. Selain dipanggil dengan panggilan Abu Bakar, beliau juga memiliki gelar yang lain di antara: al-Atiq, al-Shiddiq, al-Shahib, al-Atqa, dan al-Awwah.

Kisah Abu Bakar Masuk Islam

Lalu bagaimana proses beliau masuk Islam?

Menurut Ibnu Ishaq: Abu Bakar bertemu dengan Rasulullah saw dan bertanya: Kebenaran apa yang engkau katakan kepada kaum Quraisy wahai Muhammad, dengan menyuruh kami meninggalkan tuhan kami, menganggap kami bodoh dan mengkafirkan nenek moyang kami?

Lalu Rasulullah saw menjawab: Iya, sesungguhnya Aku adalah rasul utusan Allah dan nabi-Nya, aku diutus untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengajakmu menuju kebanaran dari Allah. Demi Allah, ini adalah kebenaran yang sejati, aku mengajakmu wahai Abu Bakar untuk beriman kepada Allah swt yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya dan tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya. Lalu Rasulullah saw membacakan ayat kepada Abu Bakar dan Abu Bakar tidak menginkarinya, maka Abu Bakar masuk Islam dan menolak berhala dan membuang sekutu-sekutu bagi Allah swt dan mempercayai kebenaran Islam dan Abu Bakar sebagai mukmin mushaddiq (orang yang beriman yang membenarkan kebenaran Islam).

Kisah Abu Bakar dan Umar

Ketika masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi perang besar yang disebut perang Yamamah. Ketik perang telah selesai, maka banyak sahabat penghafal al-Qur’an dalam pertempuran tersebut sehingga membuat gundah hati Umar. Dalam benak Umar, kalau setiap perang terjadi dan banyak sahabat penghafal al-Qur’an yang meninggal, bagaimana dengan al-Qur’an itu sendiri.

Akhirnya, Umar mengajukan ide untuk mengumpulkan al-Qur’an yang masih belum terkumpul dalam satu mushaf, karena selama ini para sahabat ada menulis di pelepah daun kurma, ada yang menulis di tulang unta dan ada yang hanya dihafalkan saja tanpa menulis sama sekali. Awalnya Abu Bakar menolak karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Sehingga sampai berulang kali Umar mengajukan ide tersebut dan meyakinkan Abu Bakar kalau apa yang dilakukan ini untuk kebaikan umat Islam dan tidak melanggar tatanan agama Islam.

Sehingga suatu hari, Allah swt memberikan hidayah kepada Abu Bakar dan menyetujui ide dari Umar untuk mengumpulkan al-Qur’an. Maka, Abu Bakar membentuk tim untuk mengumpulkan al-Qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Setelah itu, tim tersebut melakukan tugas dengan mengumpulkan al-Qur’an yang masih berserakan dari para sahabat dan setelah semua terkumpul kemudian tim mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf. Setelah menjadi satu mushaf, maka tim melakukan tashih dengan melakukan komparasi dengan hafalan para sahabat senior penghafal seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain.

Setelah tim ini merasa yakin, baru kemudian al-Qur’an yang terkumpul dalam satu mushaf diserahkan kepada Abu Bakar dan disimpan di rumah beliau sampai beliau meninggal dan setelah itu, al-Qur’an disimpan di rumah Umar sebagai khalifah kedua.

Kisah Abu Bakar Menemani Nabi Muhammad SAW Hijrah

Setelah beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya, Abu Bakar terus menemani Rasulullah saw dalam segala situasi dan kondisi perjuangan dakwah beliau. Dan Abu Bakar tetap setia mendampingi Rasulullah saw dalam menghadapi intimidasi baik secara fisik maupun psikis sampai pada puncaknya orang kafir Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah saw.

Singkat cerita, malam yang sudah ditentukan oleh kaum kafir Quraisy untuk melaksanakan pembunuhan Rasulullah saw, Abu Bakar berada di rumah Rasulullah saw bersama Ali bin Abi Thalib. Pada malam itu, kediaman Rasulullah saw dikepung oleh pemuda pilihan dari kaum kafir Quraisy, lantas Rasulullah saw mendapat perintah dari Allah swt untuk berhijrah ke Madinah yang pada waktu masih bernama Yatsrib. Tapi sebelum beliau berangkat, beliau membaca surat Yasin ayat 9 sehingga para eksekutor pembunuh Rasulullah saw tidak melihat Rasulullah saw keluar dari dari rumah.

Begitu para eksekutor menyadari kalau Rasulullah saw sudah pergi, mereka ke rumah Rasulullah saw tapi hanya menemukan Ali yang sedang tidur di tempat tidur Rasulullah saw. Kemudian mereka semua mengejar sampai ke Gua Tsur di tempat Rasulullah saw bersembunyi bersama Abu Bakar sebelum melanjutkan hijrah ke Madinah.

Ketika para eksekutor sampai di depan Gua Tsur, Abu Bakar merasa kuatir dengan keselamatan Rasulullah saw, untuk menenangkan Abu Bakar, Allah swt menurunkan wahyu yaitu surat al-Taubah ayat 40 yang potongan ayatnya berbunyi: “Laa Tahzan Inna Allah Ma’ana.” Kemudian para eksekutor memeriksa gua dan mendapati jaring laba-laba masih utuh dan tidak rusak sehingga mereka berkesimpulan tidak mungkin ada orang yang masuk ke gua ini karena kalau ada yang masuk ke gua ini pasti jaring laba-laba itu pasti rusak. Dalam kondisi seperti itu, para eksekutor kembali ke Makkah tanpa hasil apapun.

Pada keesokan harinya, Nabi saw bersama Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Madinah. Namun, di tengah perjalanan, mereka berdua dihadang oleh Suraqah bin Malik yang hendak membunuh Nabi saw. Namun, dikarenakan izin Allah swt dan sikap welas asih Rasulullah saw, Suraqah tidak jadi membunuh Rasulullah saw dan mereka berdua bisa meneruskan perjalanan menuju Madinah.

Ketika sampai di luar kota Madinah, tepatnya di daerah Quba, mereka berdua berhenti dan istirahat. Kemudian Rasulullah saw mendirikan masjid yang kemudian hari dikenal dengan Masjid Quba’. Inilah  masjid pertama dalam sejarah Islam. Setelah itu, Rasulullah saw dan Abu Bakar menuju Madinah. Setibanya di sana, orang-orang Madinah menyambut mereka dengan suasana suka cita dan mempersilahkan mereka untuk beristirahat di tempat yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. Di Madinah inilah, Rasulullah saw mempersatukan kaum muslimin muhajirin dan anshor dengan  tali iman yang begitu kuat dan kokoh. Kisah ini disadur dari kitab Sirat al-Atiq Abi Bakar al-Shiddiq ra.

Kisah Abu Bakar Menjadi Khilafah

Pada hari wafatnya Rasulullah saw, Kaum Anshor berkumpul di rumah Bani Saidah, kemudian ada seorang yang memberitahukan kejadian itu kepada Umar agar Umar segera ke sana sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk pergi ke sana. Maka terjadi dialog antara Kaum Muhajirin dan Anshor tentang kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Di tengah-tengah dialog sedang berlangsung, Zaid bin Tsabit al-Anshari berdiri dan mengutarakan pendapatnya yaitu sesungguhnya Rasulullah saw adalah Muhajirin dan pemimpin selayaknya juga dari Muhajirin dan kami juga menolong Rasulullah saw sebagaimana kamu semua menolong Rasulullah saw. Lantas Abu Bakar membenarkan argumentasi dari Zaid bin Tsabit.

Lalu, kemudian Abu Bakar menawarkan ide untuk menjadikan pemimpin di antara dua orang di antara kita yaitu Umar dan Ubaidah bin Jarrah. Seketika itu, Umar berkata: “Saya tidak suka saran Abu Bakar atau yang lain, saya lebih suka yang memimpin kita adalah Abu Bakar, maka aku berkata kepada Abu Bakar: “Bukalah tanganmu, maka Abu Bakar membuka tangannya, maka aku membai’atnya dan setelah kamu Muhajirin dan Anshor juga ikut membai’atnya menjadi khalifah pertama umat Islam.

Prestasi dan Karya Abu Bakar

  1. Memerangi orang yang murtad dengan mengaku menjadi Nabi yang dipimpin oleh Musailamah al-Kadzab.
  2. Penaklukan Irak dan Syam.
  3. Pengumpulan al-Qur’an atas saran Umar dengan dibentuknya tim yang dikomandani oleh Zaid bin Tsabit.

Setelah menjadi khalifah hampir 3 tahun, Abu Bakar jatuh sakit selama 15 hari sehingga tidak bisa mengimami shalat dan menyuruh Umar untuk menjadi imam shalat. Ketika beliau merasa bahwa kematian beliau sudah dekat, beliau memanggil beberapa sahabat untuk mendiskusikan tentang urusan kepemimpinan setelah beliau meninggal.

Maka beliau memanggil Abdurrahman bin Auf dan meminta pendapat tentang Umar, begitu juga beliau meminta pendapat tentang Umar kepada Utsman bin Affan, dan sahabat lainnya termasuk Ali dan Thalhah. Setelah meminta pendapat dari berbagai pihak, akhirnya Abu Bakar mewasiatkan kepada umat Islam bahwa yang menjadi khalifah setelah beliau wafat adalah Umar bin al-Khattab dan kaum muslimin menyetujuinya.

Beliau wafat pada hari Senin tanggal 8 Jumadil Akhir tahun 13 H dan dimakamkan di samping Nabi saw sekaligus sahabat tercintanya yaitu Rasulullah saw di Masjid Nabawi Madinah Munawarah.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil ibrah di antaranya:

  1. Keimanan adalah hidayah dari Allah swt, maka kita harus terus berdoa kepada Allah swt agar tetap dalam hidayah dan taufiq-Nya.
  2. Persahabatan adalah perjuangan dan pengorbanan dan ukuran dari sebuah persahabatan adalah keberanian untuk berjuang dan berkorban untuk persahabatan di atas jalan kebenaran dari semua sisi kehidupan.
  3. Persahabatan sejati didasari oleh hati nurani dan rasa sejati tanpa melihat materi dan prestasi apalagi tendensi dan ambisi.
  4. Dalam menyelesaikan masalah apapun, sebaiknya kita meminta saran dan pertimbangan dari berbagai pihak yang berkompeten untuk itu dan berdiskusi untuk solusi yang terbaik.

 

والله أعلم بالصواب

والله الموفق إلى أقوم الطريق

 

Referensi:

  1. Sirat al-Atiq Abi Bakar al-Shiddiq karya Musa bin Rasyid al-‘Azimi, cetakan pertama, Arab Saudi: Dar al-Shumai’i, 1436 H – 2015 M.
  2. Al-Khalifat al-Awal Abu Bakar al-Shiddiq Syakhhiyatuhu wa ‘Ashruhu karya  Dr. Ali Muhammad al-Shalabi, cetakan ketujuh, Beirut Libanon: Dar al-Ma’rifah, 1430 H – 2009 M.
  3. ‘Abqariyat al-Shiddiq karya Abbas Mahmud al-Aqqad, Beirut Libanon: Mansyurat al-Maktabat al-Ashriyyah.
  4. Sirat Abu Bakar al-Shiddiq karya Syaikh Abdurrahman al-Sahim, Maktabat Misykat al-Islamiyah.

Leave a Reply