Kisah Nabi Hud As. Lengkap dengan Mukjizat dan Kisahnya Bersama Kaum Aad

Kisah Nabi Hud ‘Alaihissalam merupakan salah satu kisah yang sangat menginsipirasi. Bukan hanya sosoknya yang istimewa karena menjadi utusan Allah Swt., namun juga karena perjuangan hidupnya yang cukup berat dalam membenahi akhlak kaumnya saat itu, Aad. Berbagai cacian bahkan cemoohan diterimanya saat menyebarkan ajaran yang benar, yaitu menyembah Allah Swt. Penasaran dengan kisah hidup beliau dari lahir sampai meninggal lengkap dengan upayanya saat menghadapi kaum Aad? Yuk simak kisahnya berikut ini.

Kehidupan Kaum Aad


Setelah sebagian besar kaum Nabi Nuh As. dimusnahkan dengan banjir bandang, Allah memberi anugerah kepada sebagian kaum yang beriman dengan kehidupan lebih baik. Dan, kaum Aad merupakan salah satu kaum penerusnya. Kaum ini hidup di bukit pasir Al-Ahqaf, perbatasan antara Oman dan Yaman. Beribu kenikmatan Allah limpahkan kepada mereka, baik berupa kemakmuran negeri, kecerdasan, maupun kehebatan fisik. Secara fisik, penduduk kaum Aad mempunyai perawakan yang tinggi, tegap, dan kuat, sehingga mampu mengerjakan berbagai aktivitas berat dengan mudah.

Di sisi lain, meskipun daerah ini berada di daerah perbukitan berpasir, namun kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sangat melimpah. Hamparan pertanian dan sungai-sungai menghiasi pemukiman mereka. Hal ini tidak lepas dari kecerdasan yang Allah berikan kepada kaum Aad sehingga mampu menyulap bukit pasir yang tandus menjadi daerah yang sangat subur untuk ditumbuhi berbagai tanaman. Tidak hanya itu, berkat kecerdasan tersebut, mereka mampu mengatur perkotaan dan membangun gedung-gedung dengan arsitek tinggi pada zaman itu. Bisa dikatakan, negeri kaum Aad paling makmur di antara kaum lainnya.

Sayangnya, meskipun sudah diberi banyak kenikmatan, bukan rasa syukur yang ditunjukkan, namun justru kesombongan dan keangkuhan yang mendiami sifat mereka. Kekejaman dan kekejian juga mereka tunjukkan terhadap daerah yang berhasil mereka taklukkan tanpa belas kasihan. Mereka merasa sangat kuat dan tidak terkalahkan oleh apa pun. Kesombongan mereka pun mencapai puncaknya saat mengatakan bahwa tidak ada siapa pun yang mampu mengalahkan mereka di bumi ini. Berbagai dosa, maksiat, dan kerusakan bumi mereka lakukan dengan mudahnya dan tanpa merasa bersalah.

Parahnya lagi, mereka justru menyembah tiga buah berhala yang diberi nama Shad, Shamudra, dan Hara. Mereka menganggap bahwa ketiga berhala inilah yang memberi mereka kekuatan, kemakmuran, maupun keselamatan hidup. Kaum Aad merupakan kaum penyembah berhala pertama setelah kaum Nabi Nuh As. yang dimusnahkan Allah dengan banjir bandang. Mereka tidak mengenal lagi Allah yang sudah menyelamatkan leluhurnya dari azab yang pedih. Yang mereka ingat hanyalah kesenangan duniawi yang kini mereka miliki.

Kehadiran Nabi Hud di Tengah Kaum Aad dan Silsilahnya

Menghadapi semakin parahnya akhlak dari kaum Aad ini, Allah kemudian mengirimkan seorang nabi di antara kaum tersebut untuk memperbaikinya, yaitu Nabi Hud. Nabi Hud As. sendiri merupakan nabi keempat setelah Nabi Nuh As. Ia lahir dari salah satu keluarga kaum Aad dengan ayah bernama Abdullah. Bahkan, ia juga termasuk salah satu saudara dari pemuka kaum Aad itu sendiri. Jika dilihat dari garis keturunan, berikut ini merupakan silsilah dari Nabi Hud As.

Hud As. à Abdullah à Rabah à Khulud à Aad  à ‘Aush à Iram à Sam à Nuh As.

Dari silsilah di atas, jelaslah bahwa Nabi Hud termasuk salah satu cucu dari Nabi Nuh As. Ia dipilih Allah sebagai utusan untuk mengajak kaum Aad agar kembali menyembah kepada Allah. Seperti halnya nabi-nabi sebelumnya, banyak penolakan yang diterimanya, baik dari tetangga, masyarakat sekitar, maupun saudara sendiri. Dalam perjalanan hidupnya, Nabi Hud menikahi seorang wanita bernama Melka, anak dari Madai bin Japeth (Yafas). Menurut beberapa sumber, beliau tidak dianugerahi anak oleh Allah.

Azab yang Menimpa Kaum Aad

Perjuangan Nabi Hud dalam memperbaiki akhlak kaum Aad memang cukup berat. Sifat sombong dan angkuh yang dimiliki kaum Aad seakan sudah menutup mata hati mereka untuk bisa menerima hidayah dari Allah. Meskipun Nabi Hud sudah memperingatkan betapa azab Allah sangat pedih jika mereka tidak segera bertaubat, namun mereka tetap mengabaikannya dan justru menertawakan dan memperoloknya. Bahkan, mereka juga menantang agar azab tersebut segera didatangkan untuk membuktikan kebenaran ucapan Nabi Hud.

Allah sangat murka dengan kesombongan kaum Aad tersebut hingga akhirnya azab itu diturunkan lebih cepat sesuai keinginan mereka. Azab pertama yang Allah berikan berupa musim kemarau dan kekeringan yang sangat panjang. Hal ini membuat sungai-sungai menjadi kering dan tanaman mereka menjadi mati. Akibatnya, kelaparan hebat melanda kaum ini. Nabi Hud kembali menyeru kepada mereka untuk segera bertaubat dan mengatakan bahwa ini merupakan azab Allah.

Namun, seruan ini tetap tidak menggoyahkan pendirian kaum Aad untuk tetap menyembah berhala. Mereka beranggapan bahwa hanya tuhan merekalah yang mampu mengatasi kekeringan yang melanda negeri ini. Hingga suatu saat, muncullah awan hitam yang sangat tebal di atas negeri Aad. Penduduk sangat gembira karena mengira bahwa awan tersebut akan mendatangkan hujan dan kemakmuran kembali. Padahal, sebenarnya ini merupakan azab Allah tahap kedua.

Tak berapa lama, di saat penduduk Aad bergembira menyambut akan datangnya hujan, gumpalan awan hitam tersebut berubah menjadi badai angin topan yang memporakporandakan seluruh rumah penduduk. Manusia berlarian tak tentu dan hewan-hewan berterbangan ke sana kemari. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa menolong mereka dari murka Allah ini. Sementara itu, Nabi Hud dan beberapa pengikutnya diselamatkan dari bencana ini. Menurut cerita, badai angin topan ini terjadi selama 8 hari berturut-turut.

Mukjizat dan Wafatnya sang Nabi

Setelah badai angin topan berhenti, suasana di Ahqaf menjadi sunyi senyap. Semua kaum Aad terbumihanguskan tanpa sisa, kecuali Nabi Hud dan sahabat-sahabatnya yang beriman. Mereka kemudian pindah ke Hadramaut, sekitar 80 km dari kota Tarim, dan hidup menetap di sana hingga Nabi Hud meninggal dengan usia 130 tahun. Ia juga dimakamkan di daerah tersebut yang sampai sekarang masih sering diziarahi oleh seluruh umat muslim di dunia.

Selamatnya Nabi Hud dari bencana angin topan tersebut merupakan salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Hud. Tidak hanya itu, mukjizat lain yang dimiliki Nabi Hud berdasarkan cerita di atas adalah ia lahir di negeri yang sangat makmur dan diwafatkan dalam usia sangat panjang, yaitu 130 tahun. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita meneladani sifat beliau yang pantang menyerah meskipun beribu cemoohan diterimanya saat berdakwah. Kita juga bisa mengambil hikmah dari cerita ini bahwa kesombongan dan keangkuhan hanya hanya akan mendatangkan azab Allah lebih cepat. Itulah cerita lengkap dari perjalanan hidup seorang nabi di tengah kaumnya sendiri mulai dari lahir hingga wafatnya melalui kisah Nabi Hud ini.

Leave a Reply