Kisah Nabi Ismail Dari Lahir Hingga Wafat [Ringkas + 6 Hikmahnya]

Kisah Nabi Ismail

Berikut adalah kisah Nabi Ismail, putra dari Nabi Ibrahim. Cerita ini disampaikan dengan ringkas, mulai dari kelahiran Nabi Ismail; kebersamaannya bersama ayahanda dan juga ibundanya: Siti Hajar; cobaan yang dialaminya hampir disembelih oleh Nabi Ibrahim; keturunan nabi Ismail; hingga hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini.

 

Kisah Nabi Ismail Bersama Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim as terlahir di kota Babil (sekarang wilayah Irak) sebagai tiga bersaudara yaitu Nahur, Ibrahim dan Haran, dari pasangan orang tua yaitu Tarakh (Azar) dan Umailah1 atau Buna binti Karbana binti Karli dari Bani Arfahsyadz bin Sam bin Nuh2. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim as menikah dengan Siti Sarah dan mereka semua (Tarakh, Nabi Ibrahim as dan istrinya, serta saudara sepupu Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Luth as) berpindah ke daerah Kan’an dan bertempat di tanah Harran, wilayah Baitul Maqdis.

Seluruh penduduk di daerah Harran menyembah bintang dan mereka semua dalam kesesatan sampai akhirnya Nabi Ibrahim as diutus sebagai nabi dan rasul untuk mereka dan orang yang pertama kali diajak beriman kepada Allah swt adalah ayahnya sendiri namun ditolak.3 Setelah itu, Nabi Ibrahim as berdakwah di Babil yang menyembah berhala namun seruan dakwah Nabi Ibrahim as ditolak juga sampai terjadi perdebatan yang sangat sengit sehingga Nabi Ibrahim as divonis hukuman dengan dibakar hidup-hidup dalam kobaran yang membara sebagaimana yang ceritakan Allah swt dalam al-Qur’an.4

Singkat cerita, setelah sekian lama menikah dengan Siti Sarah, Nabi Ibrahim as belum memiliki anak, beliau memutuskan untuk hijrah ke Syam. Dari sana, Nabi Ibrahim as melanjutkan perjalanan ke Mesir dan bertemu dengan raja yang berkuasa pada saat itu dan diberi hadiah yang banyak termasuk salah satunya adalah Hajar (sebagai budak). Karena belum memiliki anak dalam kurun yang cukup lama, akhirnya Siti Sarah menyarankan Nabi Ibrahim as untuk menikah lagi dan Siti Sarah memilih Siti Hajar yang pada waktu itu adalah budaknya keluarga Nabi Ibrahim as sebagai istri kedua Nabi Ibrahim as dan beliau menyetujuinya.

 

Kelahiran Nabi Ismail AS

Selang beberapa waktu, Siti Hajar mengandung dan semakin terlihat kasih sayang Nabi Ibrahim as kepada Siti Hajar yang membuat cemburu Siti Sarah sehingga membuat Nabi Ibrahim as merasah bersalah kepada Siti Sarah sampai Nabi Ibrahim as berkata kepada Siti Sarah: “Aku sudah mengikuti apa yang kamu inginkan tapi mengapa masih marah kepadaku, bukankah dia (Siti Hajar) adalah pilihanmu?”. Selang beberapa lama, Siti Hajar melahirkan bayi laki-laki yang tampan yang diberi nama Ismail dan semakin terlihat bertambah besar kasih sayang Nabi Ibrahim as kepada Siti Hajar dan putranya5.

Karena situasi keluarga Nabi Ibrahim as semakin memanas karena kecemburuan Siti Sarah terhadap Siti Hajar dan putranya, akhirnya Nabi Ibrahim memutuskan untuk membawa hijrah keduanya ke daerah yang jauh yang akhirnya beliau berjalan menuju padang tanah yang tanpa apapun dan siapapun yang sekarang terkenal sebagai tanah haram (Mekkah)6.

 

Hijrahnya Siti Hajar dan Nabi Ismail ke Mekkah

Setelah itu, Nabi Ibrahim as meninggalkan mereka berdua dengan bekal seadanya sampai akhirnya keduanya kehabisan perbekalan. Hal itu membuat Siti Hajar harus berlarian dari satu bukit ke bukit yang lain7 untuk mencari kebutuhan untuknya dan anaknya terutama air minum karena Ismail sudah sangat kehausan. Namun, Siti Hajar tidak menemukan apapun. Setelah kelelahan mencari, akhirnya Siti Hajar kembali ke tempat Ismail ditinggal dan terkejut karena di telapak kaki Ismail keluar air yang sekarang terkenal dengan “Air Zamzam”.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun sampai akhirnya, Siti Hajar wafat dalam usia 90 tahun sedangkan Nabi Ismail as sudah tumbuh dan menikah dengan gadis dari Bani Jurhum yaitu al-Juda’ binti Sa’d. Suatu ketika Nabi Ibrahim as ingin mengunjungi putranya, Nabi Ismail as karena rindu, untuk itu beliau meminta izin kepada Siti Sarah dan diizinkan.

Setelah tiba di mekkah, Nabi Ibrahim as mencari rumah putranya dan bertemu dengan istri Nabi Ismail. Kemudian terjadi dialog antara Nabi Ibrahim as dengan menantunya:

Nabi Ibrahim as: Di mana suamimu?

Istri Nabi Ismail as: Dia tidak ada, sedang pergi berburu.

Nabi Ibrahim as: Adakah sesuatu yang bisa kau hidangkan untuk tamu?

Istri Nabi Ismail as: Tidak ada dan tidak ada seorang pun di sini.

Nabi Ibrahim as: Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya dan katakan padanya agar ia mengganti daun pintu rumahnya.

Setelah Nabi Ismail as pulang, disampaikanlah pesan ayahanda dan maksud dari salam itu adalah bahwa Nabi Ismail as disuruh menceraikan istrinya karena dianggap tidak mempunyai tata krama yang pantas sebagai seorang istri.

Suatu saat, Nabi Ibrahim as rindu ingin mengunjungi putranya untuk kedua kalinya di Mekkah. Sesampainya di rumah Nabi Ismail as, Nabi Ibrahim as bertemu dengan istri keduanya Nabi Ismail as yang bernama Samah binti Muhalhil dan terjadi dialog di antara kedunya.

Nabi Ibrahim as: Di mana suamimu?

Istri Nabi Ismail as: Dia sedang berburu dan sebentar lagi akan kembali insya Allah, maka turunlah semoga Allah merahmatimu.

Nabi Ibrahim as: Apakah engkau menerima tamu?

Istri Nabi Ismail as: Iya.

Nabi Ibrahim as: Apakah engkau mempunyai roti, gandum atau kurma?

Maka istri Nabi Ismail as mengambil daging dan susu dan Nabi Ibrahim as mendoakan keberkahan untuk kedua makanan tersebut.

Singkat cerita, akhirnya Nabi Ibrahim as berpamitan dan berkata kepada istri Nabi Ismail as: Jika Ismail kembali, katakan kepadanya: Ibrahim menyampaikan salam padamu dan berpesan agar engkau memelihara daun pintu rumahmu karena itu adalah sebaik-baik daun pintu8.

 

Kisah Nabi Ismail Bermukim di Mekkah

Ketika Siti Hajar telah melahirkan putra, Nabi Ibrahim as semakin terlihat kasih sayangnya kepada keduanya sehingga membuat Siti Sarah cemburu dan meminta Nabi Ibrahim as untuk membawa pergi Siti Hajar dan putranya ke tempat yang jauh. Maka Nabi Ibrahim as membawa mereka berdua ke tempat yang tak bertuan dan tandus yang sekarang bernama Mekkah.

Di sana, berbagai peristiwa dan kejadian yang mengiringi keduanya untuk menguji keimanan dan keyakinan keduanya kepada Allah swt menghiasi kehidupan kedunya. Dari mulai habisnya perbekalan, berlarinya Siti Hajar antara Shafa–Marwah untuk mencari air untuk minum Ismail sampai munculnya mata air yang kemudian dinamakan dengan “Zamzam”. Setelah sekian hidup berdua di lembah dengan bantuan air zamzam, maka suatu ketika datanglah satu kafilah yang akhirnya menetap di tempat tersebut bersama Siti Hajar dan putranya, dan kafilah itu berasal dari Bani Jurhum.

 

Mimpi Nabi Ibrahim untuk Menyembelih Nabi Ismail AS

Ketika Ismail sudah mulai beranjak remaja, Nabi Ibrahim as bermimpi untuk menyembelih Ismail. Beliau bermimpi sampai 3 tiga kali berturut-turut dalam 3 hari. Dimulai pada tanggal 7 Dzulhijjah, beliau bermimpi untuk menyembelih Ismail untuk pertama kalinya, kemudian berlanjut ke hari berikutnya dengan mimpi yang sama dan di sini Nabi Ibrahim as ragu-ragu apakah ini perintah Allah swt atau hanya mimpi dari setan9. Kemudian mimpi itu berlanjut ke hari berikutnya dan Nabi Ibrahim as yakin bahwa mimpi itu adalah wahyu dari Allah10 sebagai perintah untuk menyembelih Ismail11.

Setelah yakin kalau mimpi itu wahyu dari Allah swt, Nabi Ibrahim as berdiskusi kepada keluarga perihal mimpi tersebut untuk mendapatkan masukan dan pertimbangan. Dan Ismail sebagai anak yang shalih memberikan pendapat yang sungguh luar biasa sebagai bukti kecintaan Ismail kepada Allah swt. Ismail menyetujui perintah tersebut dan meminta doa kepada ayahanda tercinta semoga dia termasuk golongan orang-orang yang sabar. Begitu pula dengan Siti Hajar menyetujui hal tersebut.

Hal ini ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya di QS. Shaffat:

وقال إني ذاهب إلى ربي سيهدين * رب هب لي من الصالحين * فبشرناه بغلام حليم * فلما بلغ معه السعي قال يبني إني أرى في المنام إني أذبحك فانظر ماذا ترى قال يأبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين * فلما أسلما وتله للجبين * وناديناه أن يا إبراهيم * قد صدقت الرأيا إنا كذلك نجزي المحسنين * إن هذا لهو البلؤا المبين * وفديناه بذبح عظيم * وتركنا عليه في الآخرين * سلام على إبرهيم * كذلك نجزي المحسنين * إنه من عبادنا المؤمنين *

Artinya:

  1. dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”12
  2. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
  3. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar.13
  4. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.”
  5. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
  6. dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim”.
  7. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.14 Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
  8. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
  9. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.15
  10. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
  11. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”
  12. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
  13. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Ketika ketiga hamba yang shalih ini mau melaksanakan perintah Allah swt, Iblis dan pasukan mulai melancarkan strateginya untuk menggoda dan menggagalkan pelaksanaan perintah tersebut. Iblis mendatangi mereka bertiga secara bergantian namun ketiga menolak godaan dan tipu daya iblis dengan melemparkan batu kepada iblis supaya iblis pergi dan berhenti menggoda mereka dalam melaksanakan perintah Allah.16

Ketika Nabi Ibrahim as sudah sampai di Mina, maka beliau langsung melaksanakan perintah Allah swt untuk menyembelih putranya, Ismail. Namun, tiba-tiba Allah swt mengirimkan seekor kambing sebagai pengganti Ismail untuk disembelih. Dan dari sinilah asal muasal perintah penyembelihan qurban pada hari Idul Adlha yang terkenal dengan sebutan Idul Qurban.

 

Istri dan Keturunan Nabi Ismail

Nabi Ismail as menikah pertama kali dengan al-Juda’ binti Sa’d, seorang gadis dari Bani Jurhum, namun akhirnya berpisah dan kemudian menikah untuk kedua kalinya dengan Samah binti Muhalhil, dari Bani Jurhum juga.

Nabi Ismail as diangkat menjadi rasul untuk kaumnya yang terdiri dari kabilah Bani Jurhum, Kabilah Bani Amaliq dan penduduk Yaman. Beliau wafat pada usia 136 tahun dan dimakamkan di kamar beliau berdampingan dengan makam ibunda tercinta, Siti Hajar.

Dan seluruh tanah Hijaz (tanah Arab), penduduknya disandarkan nasabnya kepada kedua putra Nabi Ismail as yaitu Nabat dan Qidzar.17

 

Hikmah dari Kisah Nabi Ismail

Demikian kisah Nabi Ismail AS secara singkat. Dari kisah di atas, terdapat pelajaran berharga bagi kehidupan kita di antaranya:

  1. Untuk menjadi orang besar, butuh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.
  2. Kita harus meyakini bahwa Allah swt tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya dengan pertolongan yang di luar kemampuan kita.
  3. Kita harus ingat bahwa dibalik kesulitan akan datang kemudahan, dibalik kesedihan akan datang kebahagiaan dan dibalik kesengsaraan akan datang kenikmatan.
  4. Dalam kehidupan ini, semua manusia pasti mengalami ujian dan cobaan dan satu-satunya cara mengatasi semuanya adalah dengan cara menyerahkan semuanya kepada Allah swt dengan penuh keyakinan dan kesabaran.
  5. Sebagai orang tua yang arif dan bijak, dalam memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan anak-anak, harus tetap mengajak mereka untuk berdiskusi dalam memutuskan hal tersebut sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.
  6. Bersabar bukan berarti berputus asa tetapi harus tetap berikhtiar semaksimal kemampuan kita dan buah dari kesabaran adalah anugerah dan kemenangan yang besar sebagai bentuk balasan dari Allah swt bagi hamba-Nya yang bersabar.

 

والله أعلم بالصواب

والله الموفق إلى أقوم الطريق

 

Catatan kaki:

1 Ini menurut pendapat Ishaq bin Basyar al-Kahili, pengarang kitab al-Mubtada yang dikutip oleh Ibnu Asakir dalam kitabnya “Tarjamah Ibrahim al-Khalil. Lihat al-Bidayah wa al-Nihayah juz 1.

2 Menurut al-Kalbi.

3 Lihat keterangan lengkapnya dalam QS. Maryam: 41–48.

4 QS. al-Anbiya: 51–70; QS. al-Syu’ara: 69–83 dan QS. Shaffat: 83–98.

5 Pada saat Siti Hajar melahirkan Ismail, Nabi Ibrahim as sudah berusia 86 tahun. Lihat al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 1, hal. 227.

6 Lihat QS. Ibrahim: 37.

7 Napak tilas dari perjalanan Siti Hajar berlari itu yang kini menjadi salah satu rukun haji yaitu Sa’i.

8 Lihat al-Bidayah wa al-Nihayah, hal. 228 – 231. Lihat juga keterangan yang lain pada buku berjudul “Sejarah Ka’bah Kisah Rumah Suci yang Tak Lapuk Dimakan Zaman”, diterjemahkan oleh Fuad ibn Rusyd dari kitab aslinya berjudul “Tarikh Ka’bah” karya Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli, hal. 31 – 34.

9 Dari peristiwa inilah kemudian ada perintah sunnah untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah yaitu Puasa Tarwiyah.

10 Terdapat hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan secara marfu’: “Penglihatan (mimpi) para Nabi adalah wahyu”. Sebagaimana pendapat Ubaid bin Umair. Lihat al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 1.

11 Dari peristiwa inilah kemudian ada perintah sunnah untuk berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu Puasa Arafah.

12 Maksudnya: Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk dapat menyembah Allah dan berda’wah.

13 Yang dimaksud ialah Nabi Ismail a.s.

14 Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksanakannya.

15 Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

16 Napak tilas dari perintah adalah dengan adanya perintah melempar jumrah (jamarat) tiga kali pada pelaksanaan ibadah haji sebagai simbol perlawanan terhadap tipu daya dan godaan iblis sekaligus lambang permusuhan antara Bani Adam dan Iblis.

17 Lihat: Qashash al-Anbiya, hal. 282-283.

Leave a Reply