Kisah 4 Sahabat Nabi Khulafaur Rasyidin

Kisah Sahabat Nabi

Berikut sejarah singkat 4 sahabat Nabi Muhammad SAW.

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar al-Shiddiq dibai’at sebagai khalifah di kediaman Bani Sa’idah dan kekhalifahan beliau berlangsung selama 2 tahun tiga bulan antara tahun 11 H sampai dengan 13 H.

Kejadian penting pada masa kekhalifahan Abu Bakar al- Shiddiq adalah:

  1. Pengiriman pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid untuk memerangi pasukan romawi di Syam Syiria.
  2. Memerangi orang yang tidak mau membayar zakat.

Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 H karena terserang sakit panas dan dimakamkan di samping sahabatnya yaitu Rasulullah saw.

Umar ibn al-Khattab al-Faruq

Abu Bakar berwasiat untuk mengangkat Umar bin Khattab menjadi khalifah setelah wafatnya beliau dan masa kekhalifahan beliau berlangsung selama 10 tahun yaitu antara tahun 13 H sampai dengan 23 H.

Kejadian penting pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab adalah penaklukan Baitul Maqdis di Palestina yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Romawi.

Khalifah Umar bin Khattab wafat karena dibunuh oleh seorang majusi bernama Abu Lu’lu’ dengan pedang yang beracun ketika beliau mau melaksanakan shalat subuh bersama kaum muslimin.

Utsman ibn Affan Dzun Nurain

Setelah khalifah Umar bin Khattab terbunuh, maka dibentuk tim yang terdiri dari enam sahabat senior untuk menentukan khalifah yang berikut. Tim tersebut terdiri dari Utsman, Ali, Thalhah, al-Zubair, Abdurrahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Wqash. Mereka berdiskusi dan akhirnya memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga. Masa kekhalifahan Utsman bin Affan berlangsung selama 12 tahun yaitu antara tahun 23 H sampai dengan 35 H.

Kejadian yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan adalah:

  1. Beberapa penaklukan yang dilakukan di beberapa wilayah dan penyebaran Islam di beberapa wilayah.
  2. Perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
  3. Mengganti al-Qur’an yang semula dikumpulkan oleh tim pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar dengan menyatukan bacaan yang disebarkan ke beberapa kota yang terkenal dengan Mushaf Utsmani.

Penyebab terjadinya fitnah pada masa khalifah Utsman bin Affan adalah:

  1. Pengaruh provokasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba dari kalangan Yahudi.
  2. Kemewahan dan kesenangan yang terjadi pada umat Islam.
  3. Perbedaan karakter antara khalifah Umar dan Utsman, khalifah Umar seorang yang keras dan tegas, sedangkan khalifah Utsman seorang yang penyantun dan penyayang.
  4. Adanya keberatan dari sebagian kabilah atas kepemimpinan suku Quraisy.

Khalifah Utsman wafat pada tahun 35 H, ketika itu, kelompok massa dari Mesir, Bashrah, dan Kufah berjumlah sekitar 6000 orang bergerak menuju Madinah untuk menuntut Utsman turun dari kursi kekhalifahan. Namun, demonstrasi yang awalnya hanya menuntut khalifah Utsman turun tahta dan tidak bertujuan untuk membunuh Utsman berakhir ricuh. Dan pada akhirnya, para demonstran mengepung kediaman khalifah Utsman selama 40 hari dan berhasil masuk ke kediaman khalifah Utsman dan berhasil membunuh Utsman yang pada saat itu sedang membaca al-Qur’an sehingga darah beliau membasahi al-Qur’an yang dipegangnya. Beliau dimakamkan di kebun rumah beliau dan setelah situasi reda, pemakaman beliau dipindahkan ke kompleks pemakaman al-Baqi’.

Ali bin Abi Thalib al-Murtadha

Ali bin Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah keempat setelah terbunuhnya khalifah Utsman dan masa kekhalifahannya berlangsung selama 5 tahun yaitu antara tahun 35 H sampai dengan 40 H.

Terjadi fitnah besar pada kalangan sahabat yang berujung pada terjadinya perang Jamal antara Ali bin Abi Thalib dan pasukannya dengan Ummul Mukminin ‘Aisyah, Zubair dan Thalhah. Mereka semua menuntut keadilan atas terbunuhnya khalifah Utsman. Penyebab perang tersebut karena sifat fanatisme yang menyulut permusuhan di kalangan sahabat sehingga menyebabkan banyak sahabat yang meninggal pada peristiwa itu di antaranya adalah Zubair dan Thalhah.

Setelah perang Jamal usai, muncul provokasi baru yang menyebabkan terjadi di Shiffin antara Ali bin Abi Thalib denga Muawiyah bin Abu Sufyan ketika Muawiyah menolak untuk mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Pada perang ini banyak sekali sahabat yang meninggal di antaranya adalah Ammar bin Yasir. Sehingga kejadian ini menginspirasi para sahabat untuk mengangkat al-Qur’an dan mengusulkan opsi gencatan senjata (arbitrase) di antara kedunya.

Delegasi dari pihak Ali adalah Abu Musa al-Asy’ari dan dari pihak Muawiyah adalah Amr bin Ash. Setelah arbitrase, kedua belah pihak kembali ke tempat masing-masing, namun tatkalan pasukan Ali bin Abi Thalib, munculnya sekelompok orang yang nanti akhirnya disebut sebagai aliran Khawarij di Nahrawan dan mengajak mereka untuk bergabung dengan mereka, sebagian pasukan Ali kembali dan sebagian lagi terbunuh pada perang Nahrawan pada tahun 38 H.

Atas terjadinya perang Jamal dan Shiffin, ada catatan penting yaitu seluruh sahabat bersepakat untuk menuntut keadilan atas terbunuhnya khalifah Utsman di Kufah namun mereka berbeda tentang kapan waktunya. Sedangkan Ali bin Abi Thalib terkesan menunda keadilan tersebut sambil menunggu situasi dan kondisi pada masa kekhalifahan stabil dulu dan baru melaksanakan tuntutan mereka. Namun, Muawiyah bin Abu Sufyan yang masih sepupunya khalifah Utsman menuntut Ali bin Abi Thalib untuk segera melaksanakan hukuman terhadap pembunuhan khalifah Utsman dan baru setelah itu, Muawiyah mau mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Setelah menjadi khalifah sekitar 5 tahun, khalifah Ali terbunuh ketika beliau mau melaksanakan shalat subuh yang dilakukan oleh salah seorang anggota khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.

Teladan dari Kisah Sahabat Nabi

Berdasarkan riwayat sebuah hadits, yang diceritakan dari sahabat Sa’id bin Zaid, beliau berkata: “Kami bersembunyi bersama Nabi saw dari siksaan kaum musyrik di gua Hira, tatkala kami sampai, kami gemetar, tiba-tiba Nabi saw memukulkan telapak tangannya dan bersabda: tetaplah di gua Hira, bukankah bersama kalian adalah seorang nabi atau orang yang benar atau orang yang syahid. Maka Sa’id berkata: pada saat itu, ada Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman dan Sa’id bin Zaid.” 

Dari kisah sahabat nabi di atas, kita dapat mengambil ibrah diantaranya:

  1. Para khulafaur rasyidin adalah sahabat terdekat Rasulullah saw sehingga kedekatan inilah yang mereka memperoleh pemahaman yang utuh tentang Islam.
  2. Pemilihan pemimpin bisa dilakukan dengan cara aklamasi sebagaimana yang terjadi pada Abu Bakar dan Umar serta Ali atau pun melalui musyawarah sebagaimana yang terjadi pada Utsman bin Affan, artinya Islam lah yang mengawali sebuah konsep yang bernama demokrasi.
  3. Kejayan dan keemasan sebuah kepemimpinan tergantung pada keadilan dan kemakmuran rakyatnya dan kehancuran sebuah kepemimpinan terletak pada ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi yang memicu muncul fitnah dan provokasi yang destruktif bagi sebuah kepemimpinan.

Semoga Allah swt memberikan hidayah dan taufik kepada kita semua agar bisa meneladani para sahabat Nabi saw dan menghindarkan kita dari segala fitnah yang menghancurkan kita semua. Aamiin.

والله أعلم بالصواب

والله الموفق إلى أقوم الطريق

 

Referensi:

  1. Al-Muhadzdzab fi Fadhail al-Khulafa al-Rasyidin karya Ali bin Nayif al-Syahud, cetakan pertama, Pahang Malaysia: Dar al-Ma’mur, 1430 H/2009 M.
  2. Mukhtasar Sirat al-Khulafa al-Rasyidin wa Maqtal al-Hasan wa al-Husan, karya Abu Khalad Nashir bin Sa’id bin Saif al-Saif.

Leave a Reply