Kisah Utsman bin Affan

Kisah Utsman bin Affan

Utsman adalah salah satu dari empat sahabat nabi yang paling dikenal (khulafaur rasyidin). Berikut kisah Utsman bin Affan.

Kisah Utsman bin Affan Masuk Islam

Nama lengkap Utsman bin Affan adalah Amir al-Mukminin Utsman bin Affan bin Abu al-‘Ash bin Umayah bin Abd Syams bin Abd Manaf bin Qushaiy al-Qurasyi al-Amawi. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam kitab Fath al-Bari: “Nasab Utsman bin Affan bertemu dengan nasab Rasulullah saw pada canggah beliau yaitu Abd Manaf.

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Utsman adalah Amir al-Mukminin, pemilik dua cahaya, pemilik dua kali hijrah, suami dua putri Rasulullah saw, salah seorang dari 10 sahabat dijamin masuk surga, salah satu anggota dari dewan syuro dalam penentuan khalifah pengganti Umar, salah satu dari tiga sahabat yang sampai pada tataran khalifah yang disepakati oleh kaum muhajirin dan anshar, beliau adalah khulafaur rasyidin ketiga, pemimpin yang diberi petunjuk, yang wajib diikuti perintahnya dan dijadikan oleh mereka semua.”

Adapun Utsman bin Affan memiliki beberapa julukan di antaranya adalah sebagai berikut:

Menurut al-Imam al-Tirmidzi, Utsman memiliki dua julukan yaitu Abu Amr dan Abu Abdillah. Sedang menurut al-Bukhari, beliau memiliki julukan Abu Amr al-Qurasyi. Dan Ibnu Abd al-Barr berpendapat: “Beliau memiliki julukan Abu Amr dan Abu Abdillah tetapi yang paling masyhur adalah Abu Amr. Al-Dzahabi berkata: “Utsman bin Affan menikah dengan Ruqayah –putri Rasulullah saw– sebelum masa kenabian dan memiliki putra bernama Abdullah, tetapi beliau diberi julukan dengan putra yang lain yaitu Abu Amr.

Di samping Utsman bin Affan memiliki beberapa julukan, beliau juga memiliki beberapa gelar di antaranya:

Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari: “Gelar yang paling masyhur adalah Dzun Nurain.” Sedang menurut Ibnu Abi al-‘Izzi dalam kitab Syarh al-Thahawiyah: “Di antara keutamaan Utsman bin Affan adalah beliau dinikahkan dengan dua putri Rasulullah saw.”

Sementara itu, al-Imam al-Nawawi berkata: “Utsman bin Affan diberi gelar Dzun Nurain karena beliau menikah dengan dua putri Rasulullah saw yaitu Ruqayah sebelum masa kenabian dan meninggal pada pada hari perang Badar Kubra yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 H dan memilik anak, lalu menikah lagi dengan saudari Ruqayah yaitu Ummu Kultsum dan meninggal pada tahun 9 H tanpa memiliki seorang anak pun dan tak seorang pun yang mengetahui apakah Utsman bin Affan menikah lagi setelah pernikahanya dengan kedua putri Rasulullah saw.”

Utsman bin Affan termasuk orang golongan orang-orang yang pertama masuk islam atas jasa dakwahnya Abu Bakar kepadanya.

Ibnu Ishaq dalam kitabnya Sirat berkata: “Ketika Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk islam dan tampak sekali keislam beliau, dan beliau berdakwah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan Abu Bakar adalah seorang yang lemah lembuh, penuh kasih sayang dan memudahkan urusan orang lain, beliau mengajak orang untuk masuk islam dari kaumnya yang terpercaya, ketika orang-orang duduk dan berkomunikasi dengan Abu Bakar, dan senantiasa mengajak orang untuk memeluk islam sehingga Utsman bin Affan, al-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqash, dan Thalhah bin Ubaidillah datang ke Rasulullah saw untuk menyatakan keislaman mereka semua.”

Utsman Membeli Sumur Yahudi

Ada perbedaan riwayat tentang pemilik sumur Rumat sebelum dibeli oleh Utsman bin Affan ra, tetapi menurut al-Imam al-Baghawi dalam kitab Mu’jam al-Shahabat: “Pemilik sumur itu seseorang dari Bani Ghifar yang bernama Rumat.”

Al-Imam al-Baghawi menceritakan dalam kitab Mu’jam al-Shahabat dari jalur Bisyr bin Basyir al-Aslami dari ayahnya, ia berkata: “Ketika kaum muhajirin tiba di Madinah, mereka tidak mau meminum air dari Madinah -dikarenakan kaum muhajirin sudah terbiasa meminum air zamzam yang rasanya tawar, sedang air di Madinah rasanya asin– dan ada seseorang dari Bani Ghifar yang memiliki sumber air yang rasanya tawar yang bernama Rumat, dan dia menjual untuk minum dengan harga 1 mud, kemudian Rasulullah saw bersabda: “Berikanlah kepadaku sumber air di dalam surga.” Maka seseorang tadi pun menjawab: “Wahai Rasulullah saw, saya dan keluarga saya tidak memiliki apapun selain sumur ini.” Maka informasi ini sampai kepada Utsman bin Affan ra lalu Ustman bin Affan ra membelinya dengan harga 35 ribu dirham, kemudian seseorang tersebut mndatangi Rasulullah saw dan bertanya: “Apakah kamu akan menjadikan sumur ini untuk saya seperti apa yang saya dilakukan?” Maka Rasulullah saw menjawab: “Ya.” Lantas Utsman bin Affan ra berkata: “Sumur ini saya jadikan untuk kaum muslimin.”

Al-Hafidz Ibnu Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab berkata: Utsman ra membeli sumur Rumat –seorang Yahudi– yang menjual airnya kepada kaum muslimin, lalu Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membeli sumur milik Rumat ini untuk kaum muslimin maka baginya tempat minum di surga.” Maka Utsman ra mendatangi Yahudi dan melakukan penawaran terhadap sumur itu tetapi Yahudi itu menolak untuk menjual semuanya. Maka Ustman membeli separuh  dengan harga 12 ribu dirham untuk digunakan oleh kaum muslimin. Lalu Utsman berkata kepada Yahudi tersebut: “Jika kamu mau kamu boleh mengambil 2 bagianku, dan jika kamu mau, sehari untuk saya dan sehari untuk kamu.” Akhirnya Yahudi menyetujui pembagian yang kedua yaitu sehari untuk Yahudi dan sehari untuk Utsman ra yang dipergunakan untuk kaum muslimin. Dan apabila tiba giliran Utsma ra maka kaum muslimin mengambil air untuk minum yang bisa cukup digunakan selama dua hari. Ketika Yahudi melihat hal ini, ia berkata kepada Utsman: “Kamu telah merusak sumur saya, maka dari itu belilah separuh yang lainnya, maka Utsman membelinya dengan harga 8 ribu dirham.”

Al-Imam al-Tirmidzi dalam kitab Jami’, al-Imam Ahmad dalam kitab Musnad, dan al-Thahawi dalam kitab Syarh Musykil al-Atsar menceritakan dengan sanad yang hasan dari Utsman bin Affan ra, beliau berkata: “Ketika tiba di Madinah, tidak ada air yang rasanya tawar kecuali sumurnya Rumat, Lantas Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membeli sumur milik Rumat dan menjadikan untuk kebaikan kaum muslimin, maka baginya bagian dari sumur itu dalam surga.” Maka aku (Utsman) membelinya dari harta sendiri.”

Dan banyak lagi hadits yang menceritakan kejadian ini.

Kisah Utsman bin Affan Menangis

Utsman bin Affan ra tengah berdiri di dekat pemakaman. Tak lama di lokasi itu, Utsman menangis tersedu-sedu hingga air mata membasahi jenggotnya.

Mengapa ‘tsman bin Affan menangis? Bukankah suami dari Sayyidatina Nailah ini memiliki banyak amal shalih sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan di alam kubur dan setelah Kiamat?

“Saat teringat surga dan neraka saja, kamu tidak menangis. Namun, mengapa engkau menangis karena kuburan ini?” tanya salah seorang sahabat di lokasi itu.

“Aku mendengar Nabi saw pernah bertutur: ‘Sesungguhnya alam kubur adalah persinggahan pertama dari beberapa persinggahan di alam akhirat. Apabila seseorang selamat di alam kubur, maka alam sesudahnya akan lebih mudah. Dan apabila seseorang tidak selamat di alam kubur, maka alam setelahnya akan lebih buruk dari alam sebelumnya.”

Inilah yang menyebabkan tangis sang Utsman. Ia teringat pada nasihat sang kekasih hati, Rasulullah saw. Sebuah nasihat yang amat benar dan membuat siapa yang mendengarkan, lalu memikirkannya dalam-dalam.

Selain perkataan tersebut, Utsman bin Affan ra juga mengatakan satu sabda Nabi saw yang lain: “Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan melebihi alam kubur.”

Prestasi Utsman bin Affan

Selama masa kekhalifahan sekitar 12 tahun, banyak prestasi yang dicapai oleh khalifah Utsman, di antaranya:

  1. Perluasan Masjidil Haram
  2. Perluasan Masjid Nabawi
  3. Pembentukan angkatan laut pertama dalam Islam
  4. Pembukuan al-qur’an
  5. Penetapan adzan 2 kali pada shalat jum’at

Utsman bin Affan Wafat

Setelah khalifah Umar bin Khattab terbunuh, maka dibentuk tim yang terdiri dari enam sahabat senior untuk menentukan khalifah yang berikut. Tim tersebut terdiri dari Utsman, Ali, Thalhah, al-Zubair, Abdurrahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Wqash. Mereka berdiskusi dan akhirnya memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga. Masa kekhalifahan Utsman bin Affan berlangsung selama 12 tahun yaitu antara tahun 23 H sampai dengan 35 H.

Kejadian yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan adalah:

  1. Beberapa penaklukan yang dilakukan di beberapa wilayah dan penyebaran islam di beberapa wilayah.
  2. Perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
  3. Mengganti al-Qur’an yang semula dikumpulkan oleh tim pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar dengan menyatukan bacaan yang disebarkan ke beberapa kota yang terkenal dengan Mushaf Utsmani.

Penyebab terjadinya fitnah pada masa khalifah Utsman bin Affan adalah:

  1. Pengaruh provokasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba dari kalangan Yahudi.
  2. Kemewahan dan kesenangan yang terjadi pada umat Islam.
  3. Perbedaan karakter antara khalifah Umar dan Utsman, khalifah Umar seorang yang keras dan tegas, sedangkan khalifah Utsman seorang yang penyantun dan penyayang.
  4. Adanya keberatan dari sebagian kabilah atas kepemimpinan suku Quraisy.

Khalifah Utsman wafat pada tahun 35 H, ketika itu, kelompok massa dari Mesir, Bashrah, dan Kufah berjumlah sekitar 6000 orang bergerak menuju Madinah untuk menuntut Utsman turun dari kursi kekhalifahan. Namun, demonstrasi yang awalnya hanya menuntut khalifah Utsman turun tahta dan tidak bertujuan untuk membunuh Utsman berakhir ricuh. Dan pada akhirnya, para demonstran mengepung kediaman khalifah Utsman selama 40 hari dan berhasil masuk ke kediaman khalifah Utsman dan berhasil membunuh Utsman yang pada saat itu sedang membaca al-Qur’an sehingga darah beliau membasahi al-Qur’an yang dipegangnya. Beliau dimakamkan di kebun rumah beliau dan setelah situasi reda, pemakaman beliau dipindahkan ke kompleks pemakaman al-Baqi’.

Dari kisah Utsman bin Affan di atas, kita dapat mengambil ibrah di antaranya:

  1. Dalam perjuangan dalam bentuk apapun tidak ada yang sia-sia karena suatu hari nanti perjuangan itu akan menampakkan keberhasilan apalagi memperjuangkan islam baik dengan diri dan harta kita, pasti akan datang kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
  2. Dunia adalah rotasi perjalanan kehidupan makhluk Allah swt khususnya, maka ada kalanya kita berjaya ada kala kita terhina, maka pegang teguh keyakinan kepada Allah swt karena hanya dengan itu kita masih bisa tersenyum ketika kita melihat dunia ini.
  3. Berhati-hatilah dengan kemewahan dan kebesaran dunia yang ada pada kita, karena bisa melalaikan kita dari tugas utama kita dan bisa menjerumuskan kita dengan pandangan semu dan palsu dari orang yang ada di sekitar kita. Maka periksalah hati kita apakah ia bergeser dari kebenaran yang hakiki ketika kemewahan dunia itu datang.

والله أعلم بالصواب

والله الموفق إلى أقوم الطريق

Referensi:

  1. Mukhtasar Sirat al-Khulafa al-Rasyidin wa Maqtal al-Hasan wa al-Husan, karya Abu Khalad Nashir bin Sa’id bin Saif al-Saif.
  2. Sirat al-Umariyat karya Musa bin Rasyid al-‘Azimi, cetakan kedua, Saudi Arabia: Dar al-Shumai’i, 1440 H – 2019 M.
  3. Tarikh al-Khulafa’ karya al-Imam al-Hafidz Jalal al-Din Abdurrahman bin Abu Bakar al-Suyuthi, cetakan kedua, Qatar: Wizarat al-Auqaf wa al-Syu-un al-Islamiyah, 1434 H – 201 M.
  4. Al-Wa’d al-Haqq karya Dr. Umar abd al-Kafi

Leave a Reply